BERGAMO DAN MILAN, DISATUKAN OLEH LEBIH DARI HANYA WARNA

Mulai dari Cominelli sampai Facchetti, MondoFutbol mengungkapkan sejumlah pesepakbola besar Italia yang pernah mewakili Atalanta dan Inter

MILAN – Selama Perang Dunia I, kaum wanita dari kawasan lembah utara di Bergamo membuat alas kaki dari apa pun kain bekas yang mereka miliki sebagai kenang-kenangan perpisahan dengan orang-orang tercinta yang bertempur di garis depan. Bagian pakaian tersebut akan melindungi para prajurit dari ganasnya suhu di musim dingin dan menghangatkan perasaan mereka melalui kenangan akan rumah. 

Ada legenda bahwa Severo Cominelli, yang lahir di provinsi Bergamo tahun 1915, menendang bola pertamanya dengan mengenakan sepatu dari kain bekas seperti itu. Beginilah gelandang masa depan ini mengasah bakatnya, yang membawanya mewakili Atalanta dan kemudian Inter, bergabung dengan Nerazzurri pada usia 26 tahun di tahun 1941. Nasib menentukan bahwa puncak kariernya harus berbenturan dengan konflik global lainnya, pada masa sepak bola merupakan satu-satunya cara bagi sang pemain untuk bersantai. Seorang pemain yang kebetulan mengangkat dirinya sendiri sebagai legenda di Atalanta melalui 60 gol untuk klub tersebut, sebuah rekor yang bertahan hingga 2007. Prestasi luar biasa bagi seorang pemuda gunung.

Namun demikian, Cominelli bukanlah pemain pertama yang bermain untuk Atalanta dan juga Inter; pada awal tahun 1930an, kedua klub juga memiliki kesamaan dalam nama Carlo Ceresoli. Penjaga gawang yang ikut mengangkat Piala Dunia 1938 tersebut pindah ke Milan tahun 1932 setelah sempat sukses bersama klub kampung halamannya di Bergamo. Kenyataannya, Ceresoli menempuh pendidikan sepak bola di Ardens Bergamo, klub yang dulu memasok pemain untuk Atalanta, yang saat ini hanya menyisakan sebuah taman umum dan tempat bersantai mahasiswa. 

Kedua orang ini merupakan yang pertama dari suatu hubungan yang selama bertahun-tahun sesudahnya membawa banyak pemain menyeberangi Sungai Adda, perbatasan kuno dan menakjubkan antara Republik Venesia dan Duchy of Milan. Barangkali Angelo Domenghini benar-benar menempuh rute ini dalam perjalanannya dari Atalanta ke Inter tahun 1964. Lahir di Lallio di provinsi Bergamo, karier berawal di gereja kecil setempat dan membawanya tampil dalam kemenangan bersejarah Inter di Piala Eropa tahun 1965, dan kemenangan di ajang Euro 1968 untuk Italia.

Tim nasional saat itu juga beranggotakan pemain lain yang lahir di Bergamo, Giacinto Facchetti. Mungkin akan lebih pas menyebut Treviglio, titik pertengahan antara Bergamo dan Milan sekaligus tempat legenda Fachetti bermula. Setiap pagi Anda dapat melihat Bergamo dari tempat kelahiran Giacinto, dan saat cuaca cerah Vitta Alta juga terlihat dengan bendera merah dan kuning di atas Porta San Giacomo. Warna kuning mewakili matahari, ketuhanan, dan kekayaan yang menjelma menjadi nilai-nilai materi dan kehidupan sehari-hari; merah seperti api dan darah. Ini semua merupakan simbol suatu tempat yang memperastukan cinta dan tradisi, pengorbanan dan keinginan. 

Warna-warna sejati Bergamo bukanlah hitam dan biru; sepak bola telah mewariskan strip ini kepada kota itu, dan sepakbola pula yang mempersatukan takdir Bergamo dan Milan selama berabad-abad.

Bruno Bottaro


 English version  Versione Italiana 

Muat lebih banyak